Anemia, Penelitian Operasi Caesar Melahirkan Para Remaja

Anemia, Penelitian Operasi Caesar Melahirkan Para Remaja

Sebuah studi lima tahun yang panjang tentang kehamilan remaja di Katsina menghubungkannya dengan tingginya insiden operasi caesar, anemia dan prematur.

Saat Ibu mengalami anemia, darah Ibu tidak memiliki sel darah merah yang cukup sehat untuk mengangkut oksigen ke jaringan Ibu dan kepada janin. Selama masa kehamilan, tubuh Ibu akan memproduksi lebih banyak darah demi mendukung perkembangan janin di dalam kandungan Ibu. Jika Ibu tidak mendapatkan zat besi yang cukup atau nutrisi penting lainnya, maka tubuh Ibu tidak akan mampu memproduksi sel darah merah.

Penyebab Anemia Saat Hamil

Meskipun saat sebelum hamil Ibu tidak pernah mengalami anemia, Ibu bisa saja mengalami anemia ketika hamil. Hal ini biasanya disebabkan karena kurangnya asupan gizi, terutama zat besi. Kebutuhan zat besi pada tubuh ibu hamil terus-menerus meningkat sesuai dengan usia kehamilan.

Zat besi adalah zat gizi penting untuk membentuk hemoglobin, yakni protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh jaringan dan organ tubuh. Selama masa kehamilan, jumlah darah dalam tubuh Ibu meningkat hingga 50% lebih banyak dibandingkan dengan kondisi tubuh dalam keadaan normal, sehingga Ibu memerlukan banyak zat besi yang membentuk hemoglobin untuk mengimbangi kenaikan volume darah. Juga untuk memenuhi kebutuhan zat besi bagi perkembangan janin dan plasenta.

Sayangnya, kebanyakan ibu hamil tidak menyadari adanya peningkatan kebutuhan zat besi yang diperlukan tubuh, terutama pada trimester kedua dan ketiga saat kebutuhan tubuh akan sel darah sangat meningkat drastis. Jika Ibu berada dalam kondisi kekurangan zat besi untuk membentuk hemoglobin yang diperlukan, maka Ibu berisiko mengalami anemia.

Risiko terserang anemia akut semakin meningkat jika :

• Sering mual-mual di pagi hari dan frekuensi muntah terlalu sering.

• Nafsu makan yang turun karena mual dan muntah

• Sedang mengandung lebih dari satu bayi.

• Jarak antar kehamilan terlalu dekat.

• Pola makan yang buruk, sehingga kebutuhan zat besi tidak tercukupi.

• Jumlah darah yang Ibu keluarkan saat menstruasi pada pra-kehamilan, terlalu banyak.

• Terjadi pendarahan pada waktu persalinan.

Selain kekurangan zat besi, anemia juga dapat disebabkan karena kekurangan suplai asam folat atau vitamin B12, atau karena penyakit tertentu, misalnya meiliki kelainan darah karena faktor keturunan. Inilah alasannya mengapa suplemen zat besi belum tentu dapat mengatasi masalah anemia. Cara penanganan anemia pada masa kehamilan harus sesuai dengan penyebabnya.

Kenali Gejala dan Risikonya

Anemia berdampak bagi kesehatan tubuh. Gejala-gejala seperti pusing, cepat letih, lemas, tidak bersemangat, mata berkunang-kunang, mudah mengantuk, sesak napas, daya tahan tubuh menurun, nafsu makan yang turun, bahkan sampai pingsan merupakan tanda awal yang segera harus diwaspadai agar tidak membahayakan kesehatan Ibu dan janin.

Jika Ibu mengalaminya, segera konsultasikan dengan dokter agar pemeriksaan dapat dilakukan, terutama pemeriksaan darah. Umumnya pemeriksaan darah dilakukan dengan memeriksa kandungan hemoglobin dalam darah. Dengan deteksi dini anemia, tindakan pengobatan pun dapat dilakukan.

Kehamilan Ibu akan sangat berisiko jika hemoglobin dalam darah pada masa kehamilan trimester pertama di bawah 11 gram per desiliter dan pada trimester kedua dan ketiga di bawah 10 gram per desiliter.

Kondisi kesehatan telah disebut kritis, bila kadar hemoglobin dalam darah di bawah 6 gram per desiliter. Hemoglobin kurang dari 5 gram per desiliter, dapat meningkatkan risiko kematian ibu dan anak. Ibu akan merasa sangat lelah karena gangguan fungsi jantung akibat kurangnya suplai oksigen ke seluruh tubuh.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memeriksakan kesehatan secara rutin pada setiap usia kehamilan, meskipun Ibu tidak merasa sakit. Pemeriksaan hemoglobin yang teratur, diperlukan ketika Ibu memutuskan untuk hamil. Sehingga beberapa terapi pencegahan bisa dilakukan sejak dini.

Anemia yang dibiarkan hingga akan memasuki waktu kelahiran, akan sangat membahayakan. Risiko yang terjadi bukan hanya berdampak bagi Ibu, tetapi juga bayi yang akan dilahirkan. Anemia pada saat hamil dapat mengakibatkan keguguran, kelahiran prematur, waktu bersalin yang lama, pendarahan pasca-melahirkan, bayi lahir dengan berat rendah, hingga kemungkinan bayi lahir dengan cacat bawaan dapat terjadi bila tidak ditangani sejak awal.

Atasi Anemia Saat Hamil

Anemia pada saat hamil bisa diatasi dengan cepat, jika sudah terdeteksi sejak dini sebelum memasuki usia kehamilan trimester pertama. Sadar kesehatan dan waspada akan gejala-gejala anemia yang mungkin terjadi adalah langkah pertama yang dapat Ibu lakukan untuk mencegah anemia.

Sadari Bahaya Anemia Saat Hamil Dengan :

• Ketahui potensi risiko Ibu akan mengalami anemia atau tidak, dengan melakukan pemeriksaan darah di lab kesehatan dan konsultasikan hasilnya dengan dokter untuk mendapatkan cara terbaik untuk menangani anemia.

• Menjaga penyerapan zat besi kedalam tubuh dengan mengonsumsi makanan alami dengan zat besi seperti daging, oatmeal, beras merah, kacang-kacangan, dan sayuran yang berwarna hijau tua.

• Jika Ibu meminum suplemen zat besi, minumlah saat kondisi perut dalam keadaan kosong dengan air mineral atau jus jeruk. Vitamin C dalam jus jeruk dapat membantu penyerapan zat besi. Namun, bila Ibu dalam kondisi mual, disarankan agar konsumsi suplemen zat besi dilakukan satu jam setelah makan.

• Suplemen zat besi akan bekerja dan hasilnya dapat Ibu rasakan dalam waktu satu minggu. Produksi sel darah merah akan meningkat juga hemoglobin dalam darah. Biasanya dalam waktu satu bulan, anemia sudah teratasi. Tetap teruskan penggunaan sesuai dengan resep. Konsultasikan dengan dokter bila Ibu merasa perlu menambah atau menghentikan pemakaiannya.

• Hindari diet secara berlebihan saat kehamilan, karena perubahan pola makan dapat berdampak pada jumlah sel darah merah. Konsumsi makanan dengan asam folat dan vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi.

Prematur

Kelahiran prematur adalah kelahiran yang terjadi pada tiga minggu atau lebih sebelum waktu kelahiran normal. Pada kondisi normal, kelahiran akan terjadi setelah kandungan berusia 40 minggu. Dengan kata lain, sebuah kelahiran disebut prematur jika kelahiran itu terjadi pada minggu ke-37 kehamilan atau lebih awal.

Minggu-minggu terakhir kehamilan merupakan saat paling penting untuk proses pertumbuhan janin, khususnya otak dan paru-paru. Maka dari itu, bayi yang lahir prematur cenderung mengalami gangguan medis lebih serius dan harus dirawat di rumah sakit lebih lama dari bayi yang lahir normal.

Berikut adalah beberapa fakta tentang bayi yang lahir prematur:

  • Bayi yang lahir saat usia kehamilan belum mencapai 25 minggu memiliki risiko penyakit jangka panjang, seperti learning disabilities (kesulitan belajar), gangguan neurologis, dan yang terburuk adalah mengalami cacat fisik.
  • Janin yang lahir sebelum usia kehamilan memasuki minggu ke-23 tidak akan bisa bertahan hidup di luar rahim sang ibu.
  • Hampir semua bayi yang lahir saat usia kehamilan belum mencapai 28 minggu mengalami gangguan pada sistem pernap
  • Jika bayi lahir setelah minggu ke-32, potensi munculnya risiko penyakit jangka panjang cukup rendah, tidak mencapai 10%.
  • Jika bayi lahir setelah minggu ke-37, risiko komplikasi mereka semakin kecil. Meskipun risikonya kecil, potensi untuk timbulnya komplikasi tetap ada.

Secara fisik, bayi yang lahir prematur terlihat berbeda dari bayi yang lahir normal. Biasanya, mereka bertubuh kecil dengan ukuran kepala yang agak besar. Ukuran badan dan kepalanya terlihat tidak proporsional. Ciri-ciri lain pada bayi prematur adalah:

  • Kurang memiliki refleks untuk mengisap dan menelan, sehingga menyebabkan mereka susah makan.
  • Diselimuti bulu halus (lanugo) yang tumbuh lebat di sekujur tubuh.
  • Sorot matanya tajam. Bentuk matanya tidak sebulat bayi normal karena kekurangan lemak tubuh.
  • Pernapasan terganggu dan suhu tubuh rendah saat dilahirkan.

Berdasarkan data yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2012, lebih dari 15 juta bayi di dunia lahir prematur setiap tahun. Sebanyak 60 persen dari kasus itu terjadi di Afrika dan Asia Selatan, termasuk Indonesia. Bahkan, Indonesia menduduki posisi kelima dalam daftar 10 negara dengan kasus kelahiran prematur tertinggi (675.700 kasus). Jumlah rata-rata kelahiran prematur di Indonesia pun cukup tinggi, yaitu sebanyak 15.5 kasus dari setiap 100 kelahiran.

Penyebab dan faktor risiko kelahiran prematur

Kelahiran prematur disebabkan oleh banyak faktor. Pada kebanyakan kasus, kelahiran prematur terjadi secara spontan tanpa diketahui penyebabnya secara jelas. Namun ada pua beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan kelahiran prematur antara lain pecah ketuban dini, perdarahan pada kehamilan, hipertensi pada saat hamil, serta serviks yang lemah atau tidak kompeten.

Potensi kelahiran prematur pada ibu hamil bisa meningkat karena sejumlah faktor. Berikut adalah beberapa faktor yang meningkatkan risiko kelahiran prematur:

  • Sering merokok baik sebelum maupun saat hamil
  • Kekurangan atau kelebihan berat badan sebelum hamil
  • Persiapan kehamilan yang kurang baik atau kurang nutrisi
  • Gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi dan diabetes
  • Mengonsumsi alkohol atau menggunakan narkoba selama masa kehamilan
  • Mengandung bayi kembar dua, tiga, atau kelipatannya
  • Jeda kehamilan yang sangat singkat dari kehamilan sebelumnya
  • Pernah melahirkan prematur, keguguran, atau melakukan aborsi
  • Stres akibat banyak pikiran
  • Memiliki masalah pada rahim, serviks, atau plasenta
  • Mengalami infeksi cairan ketuban atau sistem reproduksi
  • Kehamilan melalui vitro fertilization (pembuahan di luar rahim)

Gejala dan komplikasi kelahiran prematur

Gejala-gejala kelahiran prematur bisa dirasakan oleh sang ibu. Sekilas gejalanya terlihat mirip dengan gejala-gejala kehamilan biasa. Untuk memastikan perbedaan gejala tersebut, pasien disarankan segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala-gejala seperti di bawah ini:

  • Sakit di punggung bagian bawah
  • Kontraksi setiap 10 menit
  • Kram di bagian perut bawah
  • Keluar cairan dari vagina
  • Perdarahan di vagina
  • Sering mengalami keputihan
  • Pinggul terasa tertekan
  • Mual, muntah, atau bahkan diare.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bayi prematur mempunyai risiko komplikasi penyakit lebih besar dibanding dengan bayi normal. Berdasarkan dampaknya pada bayi, komplikasi itu terdiri dari dua jenis, yaitu:

  • Komplikasi jangka pendek. Bayi prematur kemungkinan akan mengalami sejumlah gangguan pada organ tubuh seperti jantung, otak, darah, serta gangguan sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem metabolisme, kekebalan tubuh, dan kesulitan mengendalikan suhu tubuh. Bayi prematur juga berpotensi mengalami penyakit kuning karena organ hati yang belum matang.
  • Komplikasi jangka panjang. Pada sejumlah kasus, bayi prematur mengalami komplikasi jangka panjang seperti lumpuh otak (gangguan gerak, bentuk otot, dan postur badan), gangguan keterampilan kognitif, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, masalah pada gigi, gangguan psikologis, sampai yang paling parah adalah sindrom kematian bayi mendadak.

Diagnosis kelahiran prematur

Dalam mendiagnosis kelahiran prematur, umumnya dokter akan menanyakan seputar gejala yang dialami pasien dan menanyakan apakah pasien memiliki keluarga dengan riwayat kehamilan prematur, serta obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan. Selain itu, dokter mungkin juga akan memonitor kondisi rahim pasien untuk mengetahui detak jantung bayi dan kontraksi pasien.

Jika pasien berpotensi melahirkan secara prematur, dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani sejumlah pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan itu terdiri dari:

  • USG transvaginal, untuk mendeteksi perubahan pada leher rahim (serviks)
  • Pemeriksaan kondisi rahim, untuk memonitor kontraksi pada rahim
  • Pemeriksaan untuk menentukan ada tidaknya infeksi di vagina
  • Pemeriksaan fetal fibronectin, untuk mengetahui reaksi kimiawi di bagian dasar rahim.

Pencegahan kelahiran prematur

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai penanganan kelahiran prematur, ketahui dahulu cara pencegahannya. Selama ini, penyebab kelahiran prematur seringkali tidak diketahui secara pasti. Namun, para wanita bisa mengurangi risiko kelahiran prematur dengan langkah pencegahan di bawah ini:

  • Menjalani diet sehat sebelum hamil. Mengonsumsi makanan sehat yang kaya protein, buah-buahan, dan biji-bijian sebelum hamil cukup efektif untuk mengurangi risiko kelahiran prematur.
  • Memperbanyak suplemen kalsium. Mengonsumsi suplemen kalsium sebanyak 1000 mg atau lebih perhari bisa mengurangi risiko kelahiran prematur dan preeklamsia (salah satu komplikasi kehamilan).
  • Mengonsumsi aspirin dengan dosis rendah. Untuk mengurangi risiko kelahiran prematur, ibu hamil dianjurkan mengonsumsi aspirin dengan dosis 60-80 mg mulai akhir trimester pertama kehamilan. Cara ini digunakan untuk ibu hamil dengan riwayat kelahiran prematur, preeklamsia, serta wanita hamil dengan tekanan darah tinggi.
  • Menggunakan cincin pesarium (cervical pessary)Ibu hamil dengan ukuran serviks yang pendek disarankan memakai cincin pesarium untuk menyokong rahim agar tidak turun. Bentuk alat ini menyerupai cincin yang dipasang di mulut rahim.
  • Jauhkan diri dari paparan bahan kimia. Benda-benda yang mengandung bahan kimia yang dimaksud di sini contohnya plastik, makanan kaleng, kosmetik, cat kuku dan semprotan rambut (hair spray).

Penanganan Kelahiran Prematur

Penanganan pada kelahiran prematur dibagi dua, yaitu penanganan sebelum bayi lahir dan penanganan setelah bayi lahir. Jika pasien mengalami kontraksi terjadi lebih awal saat hendak melahirkan, dokter akan memberikan obat (biasanya jenis tokolitik) untuk menghentikan kontraksi dan meredakan rasa sakit yang dirasakan. Dokter juga akan memberikan suntikan steroid untuk mengurangi risiko komplikasi pada bayi yang lahir prematur.

Jika upaya penanganan dini ini sudah dilakukan tapi kelahiran prematur tak terhindarkan, dokter akan memberikan penanganan khusus terhadap bayi prematur yang baru lahir di ruangan neonatal intensive care unit rumah sakit (NICU) selama jangka waktu tertentu. Penanganan khusus itu meliputi:

  • Memasukan bayi ke dalam inkubator agar tetap hangat. Inkubator juga membantu sang bayi supaya suhu tubuhnya tetap normal.
  • Pemasangan sensor di tubuh sang bayi untuk memonitor sistem pernapasan, detak jantung, tekanan darah, dan suhu tubuh sang bayi.
  • Pemberian asupan cairan, nutrisi, termasuk air susu ibu melalui selang intravena yang dimasukkan melalui hidung sang bayi.
  • Bayi yang lahir dengan kondisi kulit berwarna kekuning-kuningan akan diberikan terapi cahaya bilirubin untuk mengurangi kadar bilirubin dalam tubuh.
  • Bayi yang lahir prematur seringkali kesulitan membentuk sel darah merahnya sendiri. Transfusi darah mungkin dilakukan untuk meningkatkan volume darah sang bayi.
  • Dokter akan memeriksa kondisi jantung sang bayi melalui pemeriksaan ekokardiogram dengan menggunakan gelombang suara.
  • Pemeriksaan USG dilakukan untuk memeriksa kemungkinan adanya pendarahan di otak, serta organ tubuh lain seperti hati dan ginjal.
  • Dokter juga akan memeriksa mata sang bayi untuk memeriksa apakah ada kelainan pada retina yang bisa mengganggu penglihatan.

Selain serangkaian penanganan khusus di atas, dokter bisa memberikan penanganan tambahan berupa pemberian obat-obatan untuk membantu agar fungsi organ tubuh sang bayi bisa bekerja secara maksimal. Jika komplikasi tertentu timbul, dokter juga bisa melakukan penanganan lanjutan, salah satunya melalui operasi.

Dokter akan mengizinkan sang bayi untuk dibawa pulang jika kondisinya benar-benar membaik, bisa bernapas tanpa bantuan peralatan medis, suhu tubuhnya stabil, bisa menghisap susu baik dari ibu maupun melalui botol, mengalami peningkatan berat badan yang ideal, dan terbebas dari infeksi.

Untuk menyempurnakan perawatan terhadap bayi yang lahir prematur, umumnya dokter akan memberikan rancangan pedoman perawatan dan kontrol kesehatan di rumah sampai kondisi sang bayi benar-benar sehat, terbebas dari penyakit, bisa tumbuh normal, dan berkembang dengan baik.

Negara secara historis menduduki puncak liga negara-negara bagian dengan jumlah kehamilan remaja terbanyak, menurut Survei Kesehatan Demografis Nasional sebelumnya.

Peneliti menemukan 723 dari 10.391 kelahiran untuk remaja perempuan — terhitung hampir 70 dalam setiap 1.000 kelahiran di satu rumah sakit.

Gadis-gadis itu rata-rata berusia 18 tahun. Sebanyak 599 dari mereka menikah tetapi kurang dari separuh dari semua perempuan memiliki pendidikan sekolah menengah.

Hanya 60 di setiap 100 dari mereka yang dipesan untuk layanan antenatal di fasilitas kesehatan. Sepertiga dari mereka memesan ketika mereka sudah berada di trimester ketiga mereka.

Untuk setiap 100 kelahiran, 14 dilakukan melalui operasi caesar. Tujuh dari 10 anak perempuan mengalami operasi caesar karena eklampsia, suatu kondisi di mana satu atau lebih kejang terjadi pada wanita hamil yang menderita tekanan darah tinggi, sering diikuti oleh koma dan merupakan ancaman bagi kesehatan ibu dan bayi.

13% lainnya dari gadis yang melahirkan menjalani operasi caesar karena kepala atau badan bayi terlalu besar untuk masuk melalui panggul ibu. Kondisi ini sering menyebabkan fistula obstetri ketika tidak disadari.

Hampir 34 dari 100 anak perempuan mengalami anemia; 10 dari 100 di antaranya melahirkan prematur. Para peneliti mengatakan anemia dan kelahiran prematur adalah penyebab utama morbiditas ibu dan janin. Tiga dari gadis itu meninggal.

Dalam makalah mereka yang diterbitkan di Tropical Journal of Obstetrics and Gynecology, lima peneliti dari departemen kebidanan dan ginekologi di Pusat Medis Federal Katsina menyimpulkan kehamilan remaja tinggi dan “terkait dengan keterlambatan pemesanan dan peningkatan insiden operasi caesar.”

Anemia, Penelitian Operasi Caesar Melahirkan Para Remaja -kapsulkutuk-

Anemia, Penelitian Operasi Caesar Melahirkan Para Remaja -kapsulkutuk

Artikel Terkait

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *