Lebih Baik dan Enak Normal atau Operasi Caesar?

Lebih-Baik-dan-Enak-Normal-atau-Operasi-Caesar

Lebih-Baik-dan-Enak-Normal-atau-Operasi-Caesar

Sekarang ada fenomena yang berkembang, para ibu yang melahirkan normal mengaku, melahirkan secara normal adalah yang paling berat deritanya. Ibu yang melahirkan secara caesar tidak mau kalah, step by step operasi caesar dijabarkan untuk memberi kesan seolah sakit yang dia rasakan tidak kalah pilunya. Penyebarluasan foto-foto caesar semakin memperjelas kalau ibu yang lahiran caesar tidak terima bila dianggap memilih ‘jalan enak’ untuk melahirkan anak.

Ibu yang caesar sering mendapat tanggapan yang kelihatannya menunjukkan perhatian tetapi terkesan memojokkan, “Enak ya lahiran caesar“, atau “Aduh, kenapa lahirannya caesar? Sayang banget enggak ngerasain perjuangan ibu kamu dulu?”. Padahal jelas-jelas ibu yang memilih caesar sebenarnya ingin melahirkan normal namun ternyata kondisi yang memaksa harus dilakukan operasi.

Ibu mana yang tidak khawatir bila dokter mengatakan kalau kondisi anak atau ibu tidak memungkinkan untuk kelahiran normal, harus segera caesar. Ada ibu yang tetap bersikeras memilih melahirkan secara normal sekalipun dokter menyatakan harus caesar. Ada yang berhasil tetap jalur normal namun tidak jarang akhirnya mengikuti saran dokter untuk operasi.

Ada juga yang mengalami risiko akibat bersikeras ingin normal padahal sudah diindikasikan caesar. Namun, tidak semua ibu berani mengambil risiko demikian karena membayangkan keselamatan sang anak di dalam kandungan. Prinsipnya yang penting anak maupun ibu selamat dan sehat.

Seharusnya sang ibu harus tetap teguh mempertahankan cara melahirkan secara normal dan jangan mudah menyetujui anjuran caesar dari dokter. Bukankah zaman dulu ibu-ibu hampir semua melahirkan secara normal? Kira-kira demikianlah anggapan orang-orang. Tidak peduli alasan medis apa pun yang dikemukakan dan seberapa dalam nyeri yang mereka rasakan akibat operasi, sebagian orang tetap menilai mereka tidak lebih tangguh karena memilih sakit yang ‘tidak seberapa’ dibandingkan rasa sakit kontraksi melahirkan normal.

Mengapa para ibu seolah merasa bangga kalau mengalami rasa sakit yang lebih saat melahirkan? Berikut hasil analisis saya:

1. Para ibu menganggap bila melahirkan dengan rasa yang sangat sakit, maka ibu cenderung lebih mengasihi anaknya dan sebaliknya rasa sakit yang minimal menunjukkan rasa sayang yang lebih kecil karena kurangnya pengorbanan untuk merasakan derita melahirkan.

2. Anak akan lebih menghormati ibu yang rela bersakit-sakit demi melahirkan anak daripada ibu yang lebih memilih ‘jalan enak’. Bahkan ada ibu yang merekam saat-saat kelahiran dengan tujuan agar anaknya kelak tidak melawan dan senantiasa menghormati ibunya.

Benarkah ibu yang melahirkan secara caesar rasa cintanya lebih kecil daripada yang melahirkan normal? Ternyata bila diamati, banyak juga ibu yang melahirkan normal dengan mempertaruhkan nyawa namun saat ada persoalan dengan suami, dia terkadang bagaikan orang yang lepas kendali memukuli anaknya sendiri.

Kemudian ada ibu yang melahirkan anak secara caesar dan sebagai bukti cintanya dia rela merawat anak-anaknya secara langsung dan meninggalkan ambisi meniti karier setinggi bintang di langit. Bila dibandingkan, ibu mana yang lebih mengasihi anaknya? Tidak ada jawaban yang pasti karena memang rasa cinta kepada anak tidak dipengaruhi oleh cara Ibu melahirkan. Semua ibu pasti ingin memberikan kasih sayang terbaik untuk anak-anaknya dengan caranya sendiri.

Lalu benarkah anak akan lebih menghargai ibu yang melahirkan secara normal daripada caesar? Sekalipun Ibu meninggal saat melahirkan kemudian tiba-tiba bangkit lagi, sang anak tidak bisa tiba-tiba begitu saja menghormati ibunya. Serajin apa pun ibu mengingatkan derita yang dirasakan saat melahirkannya, sang anak tidak bisa otomatis langsung menghormati ibunya.

Lihat saja anak-anak yang tidak dididik dengan baik kemudian tumbuh menjadi anak pemberontak terhadap orang tua, padahal dilahirkan secara normal.

Anak yang dilahirkan secara caesar dan normal sama-sama membutuhkan kasih sayang dan didikan agar menjadi manusia yang mampu menghormati orang tua dan berguna bagi sesama. Ibu yang melahirkan secara normal tidak perlu membanggakan diri dan yang caesar jangan terjebak dalam usaha membela diri. Whatever they say, don’t worry! Pendapat orang tidak akan memengaruhi kualitas karakter anak Ibu.

Alih-alih merendahkan atau membanggakan diri sendiri, lebih bermanfaat bersyukur diberikan anugerah anak-anak yang sehat dan menggemaskan. Berapa banyak ibu di luar sana yang sudah begitu dahaga atas kehadiran seorang bayi?

Sedalam apa pun rasa sakit melahirkan yang ibu alami pasti akan hilang juga, namun perih akibat gagal mendidik anak tidak akan pernah terlupakan. Seperti kata orang bijak, “Awal memang penting tetapi akhir yang menentukan.” Mau normal atau caesar itu ‘hanya’ awal, yang terpenting bagaimana mendidik agar anak-anak agar menjadi pribadi yang berintegritas dan memegang teguh nilai-nilai agama.

Sumber : https://www.kompasiana.com/rahayusetiawatidamanik/lebih-sakit-melahirkan-normal-atau-caesar_56c53a64ae92738d11cd57dd

Artikel Terkait


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *