Resiko Jangka Panjang Operasi Caesar, Jangan Anggap Remeh

Sebelum berbicara tentang resiko jangka panjang operasi caesar, kita membahas tentang persentase kelahiran sesar. Data menunjukan telah terjadi peningkatan kelahiran Caesar secara bertahap selama 5 tahun terakhir pada 2010. Sampai saat ini belum ada data terbarukan. Pada tahun 2010, Departemen Kesehatan Indonesia melaporkan Riset Kesehatan Dasar kelahiran sesar nasional mencapai angka 15,3% dari 20.591 ibu yang melahirkan.

Hitungan kasarannya berarti 1 dari 6 wanita cenderung mengalami operasi caesar. Berbeda dengan Inggris,  tingkat operasi caesar (CS) terus meningkat di Inggris. Untuk wanita nulipara tingkat operasi caesar adalah 25%.

Persentase yang meningkat itu juga disebabkan oleh warganya yang meminta dilahirkan sesar tanpa sebab alasan medis tertentu.

Terlepas dari angka tersebut, ada resiko dengan prosedur operasi besar. Penting untuk mengetahui dan memahami resiko operasi caesar.

Seperti penelitian teranyar yang baru dipublikasikan oleh jurnal PLOS Medicine. Membahas kajian tentang resiko jangka panjang dari operasi caesar.

Apa konsekuensi jangka panjang dari operasi caesar untuk ibu, bayi dan kehamilan berikutnya bila dibandingkan dengan persalinan per vaginam ?

Penelitian ini dilakukan oleh Sarah Stock dari Pusat Kesehatan Reproduksi MRC di Universitas Edinburg, Inggris. Dalam studinya, Stock dan rekan-rekannya melakukan peninjauan ulang terhadap penelitian yang ada, untuk mengetahui dampak kelahiran sesar.

Batasan penelitian meliputi objek penelitian yang diuji  secara acak dan studi kohort  (lebih dari 1000 peserta) dengan waktu tindak lanjut lebih dari satu tahun setelah operasi caesar.

Hasilnya, penemuan mereka mengungkapkan bahwa prosedur operasi caesar bisa menyebabkan disfungsi panggul. Selain itu, wanita juga 17 % lebih mungkin mengalami keguguran jika mereka memutuskan untuk hamil setelah operasi caesar, dan 27 % lebih mungkin mengalami kelahiran mati.

Sementara itu, anak-anak yang dilahirkan melalui operasi caesar 21 % lebih mungkin mengembangkan asma dalam 12 tahun pertama, dan 59 % lebih cenderung mengalami obesitas pada usia 5 tahun.

Pada akhir penelitian mereka menyimpulkan hasil primer dan sekunder. Inilah resiko operasi caesar yang harus diperhatikan oleh Ibu.

Hasil primer

  • Bagi ibu: Disfungsi dasar panggul (inkontinensia urin, inkontinensia tinja, prolaps rahim, prolaps vagina).
  • Untuk bayi: Asma.
  • Untuk kehamilan selanjutnya: Kematian perinatal

Hasil sekunder

  • Bagi ibu: Kematian, sakit kronis, dismenorea, menorrhagia, disfungsi seksual, penggunaan kesehatan, subfertilitas.
  • Untuk bayi: Obesitas, atopi, mengi, hipersensitivitas, dermatitis, penyakit radang usus.
  • Untuk kehamilan berikutnya: plasenta previa, plasenta akreta, abrupsio plasenta, ruptur uteri, histerektomi.

Namun demikian, peneliti mengakui adanya keterbatasan dari tinjauan mereka sendiri. “Sebagian besar penelitian yang ditinjau adalah pengamatan, yang membuat hasil cenderung bias,” kata peneliti.

Akan tetapi, mereka menekankan bahwa ini penting bagi wanita karena “Temuan ini dapat membantu meningkatkan diskusi antara dokter dan pasien mengenai cara persalinan, yang berarti bahwa pasien akan mendapat informasi lebih baik tentang potensi resiko operasi caesar terutama jangka panjang setelahnya dan manfaat kelahiran sesar untuk diri mereka sendiri, keturunan mereka, dan kehamilan di masa depan.”

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *